Memahami 8 Fase Bulan dan Fenomena Gerhana: Panduan Lengkap untuk Pemula
Pernahkah kamu mengingat bentuk Bulan yang terakhir kamu lihat? Sekarang, coba kamu perhatikan bentuk bulan malam nanti. Tentunya, bentuknya bakalan berubah, kan?
Nah, fenomena ini sebetulnya bukan karena awan yang menutupi Bulan, lho. Fenomena seperti ini disebabkan oleh fase Bulan. Apa itu fase Bulan dan bagaimana hal seperti itu bisa terjadi? Langsung saja simak penjelasan lengkapnya di artikel ini, ya!
Mengenal 8 Fase Bulan dan Fenomena Gerhana
Sebelum mengetahui lebih lanjut mengenai jumlah fase Bulan dan fenomena gerhana itu, kamu perlu memahami arti dari fase Bulan itu sendiri. Fase Bulan adalah perubahan bentuk Bulan bila dilihat dari Bumi.
Perubahan bentuk ini bisa terjadi karena di luar angkasa, Bulan selalu berputar mengelilingi Bumi. Fenomena ini yang dinamakan dengan revolusi Bulan.
Kalau kamu ingat bahwa Bumi selalu bergerak berputar mengelilingi Matahari, seperti itu juga yang terjadi dengan Bulan. Sejatinya, Bulan berputar mengelilingi Bumi dari barat menuju timur. Nah, sekali berevolusi terhadap Bumi, Bulan membutuhkan waktu 29,5 hari.
Sekarang, balik lagi ke pertanyaan sebelumnya, bagaimana fenomena seperti itu bisa terjadi dan yang paling penting ada apa saja fase Bulan itu?
Secara umum, kalau kamu amati dengan mata teelanjang, fase Bulan ini ada sebanyak delapan (8) dari waktu ke waktu. Berikut penjelasan lengkapnya.
Fase New Moon (Bulan Baru)
Fase Bulan yang pertama disebut dengan fase new moon atau bulan baru. Fase ini terjadi ketika Bulan menjadi konjungsi antara Matahari dan Bumi. Ibaratnya, Bulan menjadi “jembatan” yang posisinya ada di tengah-tengah Matahari dan Bumi.
Gak hanya itu, pada fase bulan baru ini, cahaya matahari yang seharusnya menyinari bumi, malah terhalang oleh Bulan. Ini mengakibatkan bagian Bulan yang menghadap Bumi, tidak terkena cahaya Matahari. Jadi, kalau disaksikan dari Bumi, Bulan yang seolah-olah tidak terlihat sama sekali.
Uniknya, pada fase bulan baru ini juga dapat memungkinkan kamu untuk menyaksikan gerhana Matahari! Fase bulan baru ini terjadi pada hari pertama.
Fase Waxing Crescent (Bulan Sabit Awal)
Setelah Bulan melalui fase bulan baru, fase yang dialami oleh Bulan berikutnya adalah fase waxing crescent atau fase bulan sabit awal. Pada fase bulan sabit awal ini, Bulan bergerak meninggalkan konjungsi (titik tengah antara matahari dan bumi).
Selama fase bulan sabit awal ini, bagian bulan yang terkena cahaya matahari hanya kurang dari setengah. Karenanya, dari bumi akan terlihat menyerupai bentuk sabit. Fase bulan sabit awal terjadi pada hari ke-4.
Fase First Quarter (Bulan Paruh Awal)
Apabila Bulan telah melalui fase bulan sabit awal, bulan kemudian terus bergerak, dan berada di seperempat lingkaran dari posisi awal (titik konjungsi). Fase ini dinamakan fase first quarter atau bulan paruh awal. Ini dikarenakan bagian Matahari yang bersinar tepat mengenai setengah bagian Bulan.
Pada fase bulan paruh awal, kita dapat menyaksikan bulan berbentuk setengah lingkaran. Fase first quarter atau bulan paruh awal terjadi pada hari ke-6, 7, dan 8.
Fase Waxing Gibbous (Bulan Cembung Awal)
Setelah melewati seperempat putaran Bulan, lalu fase berikutnya dikenal dengan nama waxing gibbous atau bulan cembung awal. Pada fase ini, posisi Bulan kini berada di posisi agak “di belakang” Bumi. Artinya, bagian yang terkena cahaya Matahari adalah ¾-nya.
Ini terjadi karena pada saat kita menyaksikan Bulan dari Bumi, bentuknya menjadi cembung (bagian ¾ bulan). Fase bulan cembung awal terjadi di hari ke-10, 11, dan 12.
Fase Full Moon (Bulan Purnama)
Fase full moon atau dikenal dengan fase bulan purnama adalah sebuah fase di mana Matahari, Bumi, dan Bulan, berada pada satu garis lurus. Fenomena ini mirip dengan fase first quarter atau bulan paruh awal.
Yang membuatnya berbeda adalah bulan berada di belakang Bumi. Ini menjadikan cahaya Matahari yang seharusnya menyinari Bulan, tertutupi oleh Bumi yang ukurannya lebih besar. Hasilnya, bulan terlihat bulat sempurna kayak bakso.
Fase full moon atau bulan purnama ini juga memiliki satu kejadian yang unik, yakni dapat memunculkan fenomena gerhana bulan. Fase full moon terjadi di hari ke-13, 14, dan 15.
Fase Waning Gibbous (Bulan Cembung Akhir)
Setelah melewati “setengah putaran” Bulan, lalu fase selanjutnya dikenal dengan nama waning gibbous atau bulan cembung akhir. Pergerakan Bulan yang terus menuju ke arah barat ini menyebabkan cahaya Matahari sedikit tertutup oleh Bumi.
Fase bulan cembung akhir ini menyebabkan bulan terlihat cembung atau (¾ bagian bulan) dari bumi. Fase ini terjadi di hari ke-17, 18, dan 19.
Fase Third Quarter (Bulan Paruh akhir)
Fase Bulan yang selanjutnya adalah fase third quarter atau bulan paruh akhir. Fase bulan paruh akhir ini adalah fase di mana posisi Bulan sudah mencapai ¾ putarannya.
Karena letaknya inilah, cahaya Matahari menyinari setengah bagian bulan. Sehingga, kalau kita menyaksikannya dari Bumi, maka Bulan akan terlihat setengah lingkaran. Fase ini terjadi di hari ke-21, 22, dan 23.
Fase Waning Crescent (Bulan Sabit Akhir)
Fase Bulan yang terakhir disebut dengan waning crescent atau bulan sabit akhir. Fase ini terjadi pada saat Bulan kembali berbentuk sabit.
Pada fase ini juga, Bulan sudah hampir mengitari Bumi sebanyak satu putaran penuh. Pada fase bulan sabit akhir terjadi di hari ke-27, 28, dan 29. Nah, setelah melalui fase ini, Bulan akhirnya kembali ke posisi awalnya atau fase new moon (bulan baru), di mana Bulan berada di depan bumi dan kembali tidak terlihat.
Nah, itu dia penjelasan lengkap mengenai macam-macam fase bulan dan fenomena gerhana yang terjadi. Kalau kamu ingin menyaksikan fase-fase bulan di 2025 ini, seperti fenomena bulan purnama, bulan sabit, atau bahkan gerhana, kamu bisa cek di link berikut.
Kalau kamu ingin memelajari materi ini dengan menonton video animasi menarik, coba aja saksikan video materi fase-fase bulan di buku siswa Yudhistira edisi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SMP beserta buku kerja seri Splash dan Ekspos!